Apa dan Bagaimana Konsep Kepuasan Pelanggan ( Customer Satisfaction Concept )

Kepuasan pelanggan atau customer satisfaction merupakan suatu tingkatan dimana kebutuhan, keinginan dan harapan dari pelanggan dapat terpenuhi yang  akan mengakibatkan terjadinya pembelian ulang atau kesetiaan yang berlanjut (Band, 1991).  Faktor yang paling penting untuk menciptakan kepuasan pelanggan / kepuasan konsumen adalah kinerja dari agen yang biasanya diartikan dengan kualitas dari agen tersebut (Mowen, 1995). Produk jasa berkualitas mempunyai peranan penting untuk membentuk kepuasan pelanggan (Kotler dan Armstrong, 1996).

Kami melayani analisis data kepuasan pelanggan hubungi Bengkeldata.Com :

CS  : 0819 4505 9000 WA : 0838 0405 9000

Pin BB : 7426 1930 Twitter : @bengkeldata

Email   : info@bengkeldata.com – bengkeldata@gmail.com

Pembahasan lengkap artikel ini, silahkan klik link berikut:

Apa dan Bagaimana Konsep Kepuasan Pelanggan (Customer Satisfaction) dan Loyalitas Pelanggan (Customer Loyalty)

Artikel terkait :

Apa dan Bagaimana Konsep Kepuasan Pelanggan ( Customer Satisfaction Concept )

8 Faktor Utama Demi Terciptanya Kepuasan Pelanggan

Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan ?

Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan

 

Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan.
Iklan

Analisa Data Statistik : Analisis Data Segmentasi Konsumen Hypermarket dengan Metode CHAID

Analisis CHAID (Chi-squared Automatic Interaction Detection) adalah salah satu alat statistika yang dapat digunakan untuk segmentasi pasar dengan pendekatan metode dependensi. Analisis CHAID memiliki kemampuan untuk menganalisis variabel independen monotonik, bebas, dan mengambang.

CHAID (Chi-squared Automatic Interaction Detection) pertama kali diperkenalkan dalam sebuah artikel berjudul An Exploratory Technique for Investigating Large Quantities for Categorical Data” oleh G.V Kass tahun 1980. Prosedurnya merupakan bagian dari teknik terdahulu yang dikenal dengan Automatic Interaction Detection (AID) dan mengggunakan statistik ­chi-square sebagai alat utamanya.

Data yang digunakan adalah hasil survey terhadap 300 konsumen Hypermarket. Dari data diketahui bahwa konsumen cenderung sering berbelanja dan sangat sering berbelanja di Hypermarket.

Sembilan variabel yaitu Usia, Pendapatan, Belanja, Jarak, Kendaraan, Kelengkapan, Harga, Kinerja kasir, Kinerja karyawan memiliki koefisien korelasi positif dan nilainya lebih dari nilai kritis tabel korelasi nilai-r untuk taraf signifikansi 5% dan derajat bebas 299 yaitu 0,1135, sehingga semua item tersebut dinyatakan valid.

Variabel independen yang paling berpengaruh terhadap variabel dependen  yaitu usia. Terdapat tiga segmen :

a.       Segmen pertama adalah konsumen dengan usia 17-30 tahun. Kelompok ini prediksi akan sangat jarang berbelanja sebesar 15%, jarang berbelanja sebesar 11,2 %, sering berbelanja dengan persentase sebesar 66,2 % dan sangat sering berbelanja sebesar 7,5 %.

b.      Segmen kedua adalah konsumen dengan usia 31-44 tahun. Kelompok ini diprediksi akan sangat jarang berbelanja sebesar 1,4%, jarang berbelanja sebesar 7,5 %, sering berbelanja dengan persentase sebesar 69,4 % dan sangat sering berbelanja sebesar 21,8 %.

c.       Segmen ketiga adalah konsumen dengan usia diatas 45 tahun ke atas. Kelompok ini diprediksi akan sangat jarang berbelanja sebesar 2,7%, jarang berbelanja sebesar 10,8 %, sering berbelanja dengan persentase sebesar 36,5 % dan sangat sering berbelanja sebesar 50 %.

Dari ketiga segmen dapat diketahui bahwa segmen yang paling potensial adalah segmen kedua yaitu konsumen dengan usia 31-44 tahun karena segmen tersebut mempunyai jumlah konsumen terbesar kemudian disusul segmen pertama dan segmen ketiga.

Analisis Data Statistik : Analisa Data Faktor-Faktor Konsumsi di Indonesia dengan Pendekatan ECM (Error Correction Model)

Tujuan dari  penelitian ini adalah mengkaji pengaruh variabel pendapatan nasional, inflasi, suku bunga dan jumlah uang beredar terhadap konsumsi masyarakat yang digambarkan oleh variabel pengeluaran konsumsi mayarakat. Peneilitan ini dilakukan di Indonesia pada kurun waktu tahun 1988 sampai 2005. Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan Pendekatan ECM (Error Correction Model).

Besarnya tingkat pengaruh variabel pendapatan nasional, inflasi, suku bunga deposito riil dan jumlah uang beredar terhadap pengeluaran konsumsi di Indonesia dalam jangka pendek yaitu 69,98 % sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain di luar model regresi yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Dalam jangka panjang variasi variabel independent mampu pengaruhi variasi dependent sebesar 0,984057 menunjukkan bahwa variabel independent lebih mampu menjelaskan variabel dependent sebesar 98,40% dan sisanya dijelaskan oleh variabel lain diluar model yang tidak diikutsertakan dalam penelitian ini.

Tanda koefisien koreksi kesalahan sebesar 0,69 menunjukkan bahwa 0,69 ketidaksesuaian antara pengeluaran konsumsi (Y) yang aktual dengan yang diinginkan akan dieliminasi atau dihilangkan dalam satu tahun. Hasil dari uji asumsi klasik ternyata ditemukan masalah asumsi klasik yaitu multikolinearitas, sedangkan heteroskedasitas dan autokorelasi tidak ada masalah.

Untuk menghilangkan masalah multikolinearitas,  dilakukan dengan cara menghilangkan variabel jumlah uang beredar. Sehingga diperoleh spesifikasi model penelitian yang dipakai adalah tepat dan mampu menjelaskan hubungan jangka pendek dan jangka panjang. Dengan demikian persamaan tersebut sudah sahih dan tidak ada alasan untuk ditolak.

Berikut kesimpulan yang dapat di ambil dari penelitian ini:

Besarnya pengaruh variabel pendapatan nasional, inflasi, suku bunga deposito riil dan jumlah uang beredar terhadap pengeluaran konsumsi di Indonesia dalam jangka pendek yaitu 75,12 % sisanya dipengaruhi oleh variabel lain di luar model regresi yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Variabel pendapatan nasional pada jangka pendek dan jangka panjang secara statistik positif dan signifikan, berarti pendapatan nasional berpengaruh terhadap pengeluaran konsumsi masyarakat di Indonesia periode 1988-2005.

Variabel tingkat inflasi pada jangka pendek secara statistik tidak signifikan, berarti tingkat inflasi tidak berpengaruh terhadap pengeluaran konsumsi masyarakat di Indonesia periode 1988-2005

Variabel suku bunga deposito dalam jangka pendek tidak berpengaruh terhadap pengeluaran konsumsi. Dalam jangka panjang mempunyai hubungan yang tidak signifikan yang artinya tidak berpengaruh terhadap pengeluaran konsumsi

Variabel jumlah uang beredar dalam jangka pendek tidak berpengaruh terhadap pengeluaran konsumsi.

Berdasarkan pengujian secara serempak dengan menggunakan uji F menunjukkan bahwa variabel independen secara bersama-sama mempengaruhi variabel dependen, artinya pendapatan nasional, inflasi, suku bunga deposito dan jumlah uang beredar berpengaruh secara bersama-sama terhadap pengeluaran konsumsi masyarakat Indonesia.

Keywords: Penelitian, pendapatan, inflasisuku bunga, uang, pengeluarankonsumsi, ECM, deposito, regresi, independent, dependent, uji asumsi klasik, multikolinearitas, heteroskedasitas, autokorelasi, uji F

Untuk konsultasi mengenai Olahdata lebih lanjut, silahkan menghubungi:
CS : 021-71088944 – 0819 4505 9000
YM : abays_khan
e-mail : info@bengkeldata.com
Beta Consulting
www.olah-data.com
www.bengkeldata.com

Analisa Data Skripsi : Analisis Data Perimbangan Keuangan Pusat – Daerah dan Pinjaman Daerah di Kabupaten & Kota Propinsi D.I. Yogyakarta.

Pelaksanaan otonomi daerah diharapkan membawa perubahan pada perekonomian daerah, salah satunya adalah bidang keuangan daerah yang harus mulai mandiri untuk memenuhi kebutuhan daerah. Faktanya banyak daerah yang keuangannya masih tergantung pada transfer pemerintah pusat. Pinjaman daerah menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan keuangan dari pemerintah pusat.
Hal yang menarik adalah bagaimana mengetahui hubungan keuangan antara pusat dengan daerah. Metode yang digunakan untuk mengetahui hubungan tersebut adalah dengan menggunakan derajat desentralisasi fiskal. Prinsip Derajat desentralisasi fiskal adalah membandingkan antara Pendapatan Asli Daerah (PAD), Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak (BHPBP), dan Sumbangan dan bantuan daerah (SB) terhadap Total Penerimaan Daerah. Jika didominasi oleh PAD dan BHPBP maka derajat desentralisasi fiskal tinggi dan bisa dikatakan mandiri. Bila didominasi oleh Sumbangan dan Bantuan maka derajat desentralisasi fiskal masih rendah dan bisa dikatakan belum mandiri. Untuk pinjaman daerah, model yang digunakan merujuk pada persyaratan pinjaman jangka panjang sesuai dengan penjelasan UU no. 33 pasal 54 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat Dan Pemerintah Daerah yaitu dengan Jumlah Sisa Pokok Pinjaman dan Debt Service Coverage Ratio (DSCR) atau rasio kemampuan untuk membayar kembali pinjaman.
Obyek penelitian ini adalah kabupaten dan kota di Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai obyeknya, dimana keuangan daerahnya masih didominasi oleh pusat. Penelitian dilakukan mulai tahun 1995 sampai 2003. Dominasi pemerintah pusat tidak berubah bahkan setelah otonomi daerah Pendapatan Asli Daerah di masing-masing kabupaten dan kota di Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami penurunan. Pinjaman daerah sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan keuangan terhadap pemerintah pusat ternyata belum dapat dimanfaatkan oleh masing-masing kabupaten dan kota di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal ini terlihat dari besarnya jumlah sisa pokok pinjaman dan besar DSCR yang jauh dari ketentuan UU no. 33 pasal 54 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat Dan Pemerintah Daerah.
Untuk konsultasi mengenai Olahdata lebih lanjut, silahkan menghubungi:
CS : 021-71088944 – 0819 4505 9000
YM : abays_khan
e-mail : info@bengkeldata.com
Beta Consulting

Pelaksanaan otonomi daerah diharapkan membawa perubahan pada perekonomian daerah, salah satunya adalah bidang keuangan daerah yang harus mulai mandiri untuk memenuhi kebutuhan daerah. Faktanya banyak daerah yang keuangannya masih tergantung pada transfer pemerintah pusat. Pinjaman daerah menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan keuangan dari pemerintah pusat.
Hal yang menarik adalah bagaimana mengetahui hubungan keuangan antara pusat dengan daerah. Metode yang digunakan untuk mengetahui hubungan tersebut adalah dengan menggunakan derajat desentralisasi fiskal. Prinsip Derajat desentralisasi fiskal adalah membandingkan antara Pendapatan Asli Daerah (PAD), Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak (BHPBP), dan Sumbangan dan bantuan daerah (SB) terhadap Total Penerimaan Daerah. Jika didominasi oleh PAD dan BHPBP maka derajat desentralisasi fiskal tinggi dan bisa dikatakan mandiri. Bila didominasi oleh Sumbangan dan Bantuan maka derajat desentralisasi fiskal masih rendah dan bisa dikatakan belum mandiri. Untuk pinjaman daerah, model yang digunakan merujuk pada persyaratan pinjaman jangka panjang sesuai dengan penjelasan UU no. 33 pasal 54 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat Dan Pemerintah Daerah yaitu dengan Jumlah Sisa Pokok Pinjaman dan Debt Service Coverage Ratio (DSCR) atau rasio kemampuan untuk membayar kembali pinjaman.
Obyek penelitian ini adalah kabupaten dan kota di Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai obyeknya, dimana keuangan daerahnya masih didominasi oleh pusat. Penelitian dilakukan mulai tahun 1995 sampai 2003. Dominasi pemerintah pusat tidak berubah bahkan setelah otonomi daerah Pendapatan Asli Daerah di masing-masing kabupaten dan kota di Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami penurunan. Pinjaman daerah sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan keuangan terhadap pemerintah pusat ternyata belum dapat dimanfaatkan oleh masing-masing kabupaten dan kota di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal ini terlihat dari besarnya jumlah sisa pokok pinjaman dan besar DSCR yang jauh dari ketentuan UU no. 33 pasal 54 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat Dan Pemerintah Daerah.

Untuk konsultasi mengenai Olahdata lebih lanjut, silahkan menghubungi:CS : 021-71088944 – 0819 4505 9000YM : abays_khane-mail : info@bengkeldata.comBeta Consultingwww.olah-data.comwww.bengkeldata.com

Analisa Data : Analisis Data Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Inflasi di Indonesia (Part II)

Sebelumnya pernah dibahas mengenai faktor-faktor yang memperngaruhi inflasi di tulisan I, berikut kelanjutan dari tulisan tersebut.

Inflasi merupakan penyakit ekonomi yang tidak bisa diabaikan, karena dapat menimbulkan dampak yang sangat luas. Oleh karena itu inflasi seringkali menjadi target kebijakan pemerintah. Inflasi yang tinggi begitu penting untuk diperhatikan mengingat dampaknya bagi perekonomian yang dapat menimbulkan ketidakstabilan, pertumbuhan ekonomi yang lambat, dan pengangguran yang selalu meningkat. Seperti pengangguran, inflasi juga merupakan masalah yang selalu dihadapi dalam  perekonomiansuatu negara. Sampai di mana buruknya masalah inflasi ini berbeda antara satu waktu ke waktu yang lain, dan berbeda pula dari satu negara ke negara lain. Tingkat inflasi yaitu persentasi kenaikan harga – harga dalam suatu tahun tertentu, biasanya digunakan sebagai ukuran untuk menunjukkan baik buruknya masalah ekonomi yang dihadapi. Dalam perekonomian yang pesat berkembang inflasi yang rendah tingkatnya dinamakan inflasi merayap yaitu inflasi yang mencapai 2 sampai 4 persen. Sering sekali inflasi yang lebih serius, yaitu yang tingkatnya mencapai 5 sampai 10 persen atau sedikit lebih tinggi, akan berlaku. Pada waktu peperangan atau ketidakstabilan politik, inflasi dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi yang kenaikan tersebut dinamakan hiperinflasi (Sukirno, 2004).Akibat buruk inflasipada perekonomian yang oleh sebagian ahli ekonomi berpendapat bahwainflasi yang sangat lambat berlakunya dipandang sebagai stimulator bagi pertumbuhan ekonomi. Kenaikan harga tersebut tidak secepatnya diikuti oleh kenaikan upah pekerja, maka keuntungan akan bertambah. Pertambahan keuntungan akan menggalakkan investasi di masa akan datang dan ini akan menyebabkan percepatan dalam pertumbuhan ekonomi. Tetapi jika inflasi lebih serius keadaannyaperekonomiantidak akan berkembang seperti yang diinginkan.Pengalaman beberapa Negara yang pernah mengalami hiperinflasimenunjukkan bahwa inflasi yang buruk akan menimbulkan ketidakstabilan social dan politik, dan tidak mewujudkan pertumbuhanekonomi (Sukirno, 2004).Baru – baru ini pada Agustus 2007 tingkat inflasi di indonesia mencapai 0,75 persen telah melampaui ekspektasi atau kenaikan harga – harga. Tingkat inflasi Agustus 2007 dibanding bulan juli yang sama tahun lalu hanya 0,33 persen.Sedangkan inflasi year on year (Agustus 2007 terhadap Agustus 2006) mencapai 6,51 persen. Inflasiyear on year tersebut juga lebih tinggi dari bulan lalu yang mencapai 6,06 persen (Sri Mulyani, 2007).Inflasimerupakan salah satu peristiwa moneteryang sangat penting dan dijumpai di hampir semua Negara di dunia. Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada atau mengakibatkan kenaikan sebagian besar dari barang-barang lain (Boediono, 1995).Menurut A.P. Lehner inflasi adalah keadaan dimana terjadi kelebihan permintaan (Excess Demand) terhadap barang-barang dalam perekonomian secara keseluruhan (Anton H. Gunawan, 1991). Sementara itu Ackley mendefinisikan inflasi sebagai suatu kenaikan harga yang terus menerus dari barang dan jasa secara umum (bukan satu macam barang saja dan sesaat). Menurut definisi ini, kenaikan harga yang sporadis bukan dikatakan sebagai inflasi (Iswardono, 1990). Bank Indonnesia sebagai otoritas moneter memegang kendali yang sangat strategis dalam menciptakan kebijakan moneter yang stabil dalam perekonomian nasional, Namun dalam perjalanannya kebijakan Bank Indonesia yang dibuat atau kebijakan yang diambil Bank Indonesia menjadi tidak efektif dan bahkan tidak efisien sebagaimana yang dinginkan oleh bank Indonesia terhadap kebijakan tersebut untuk perekonomian.Bank Indonesia harus dapat mengukur peredaran uang, antara lain dengan menentukan tingkat suku bunga SBI, selain itu pemerintah juga memegang peranan penting dalam mengendalikan laju inflasiuntuk itu salah satu kebijakannya adalah mengatur pengeluaran untuk pengeluaran rutinnya (government expenditure). Dilain pihak sektor luar negeri juga cukup memegang peranan dalam mengendalikan inflasi diantaranya yaitu penerimaan export. Dengan demikian laju pertumbuhaninflasi dapat dikendalikan ditekan atau bahkan kemunculannya dapat dicegah.Oleh karena itu untuk dapat mencapai dan menjaga tingkat inflasi yang rendah dan stabil diperlukan adanya kerjasama dan kemitraan dari seluruh pelaku ekonomi. Mulai dari bank indonesia, pemerintah maupun swasta inflasi tidak boleh diabaikan begitu saja, karena dapat menimbulkan dampak yang sangat luas. Inflasi yang sangat tinggi sangat penting diperhatikan mengingat dampaknya bagiperekonomian yang bisa menimbulkan ketidakstabilan, pertumbuhan ekonomi yang lambat danpengangguranyang meningkat. Dengan hal tersebut, upaya mengendalikan inflasi agar stabil sangat penting untuk dilakukan.Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang di peroleh dari BI (Bank Indonesia) dan BPS (Badan Pusat Statistik). Variabel yang di gunakan antara lain : permintaan uang, tabungan domestik, produk domestik bruto, tingkat suku bunga bank, dan kurs dollar terhadap rupiah.Metode yang digunakan adalah metode destkriptif dan kuantitatif, yaitu menggambarkan suatu permasalahan dengan menganalisis data dan hal-hal yang berhubungan dengan rumus perhitungan yang digunakan untuk menganalisis masalah yang sedang diteliti. Adapun metode analisis yang digunakan peneliti yaitu dengan Metode Mackinnon, White dan Davidson (uji MWD).Dari hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa permintaan uang dan tingkat suku bunga berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap inflasi, sedangkan produk domestik bruto (PDB)berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap inflasidan kurstidak  mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap inflasi di Indonesia pada kuartal tahun penelitian.

Inflasi merupakan penyakit ekonomi yang tidak bisa diabaikan, karena dapat menimbulkan dampak yang sangat luas. Oleh karena itu inflasi seringkali menjadi target kebijakan pemerintah. Inflasi yang tinggi begitu penting untuk diperhatikan mengingat dampaknya bagi perekonomian yang dapat menimbulkan ketidakstabilan, pertumbuhan ekonomi yang lambat, dan pengangguran yang selalu meningkat.Seperti pengangguran, inflasi juga merupakan masalah yang selalu dihadapi dalam  perekonomiansuatu negara. Sampai di mana buruknya masalah inflasi ini berbeda antara satu waktu ke waktu yang lain, dan berbeda pula dari satu negara ke negara lain. Tingkat inflasi yaitu persentasi kenaikan harga – harga dalam suatu tahun tertentu, biasanya digunakan sebagai ukuran untuk menunjukkan baik buruknya masalah ekonomi yang dihadapi. Dalam perekonomian yang pesat berkembang inflasi yang rendah tingkatnya dinamakan inflasi merayap yaitu inflasi yang mencapai 2 sampai 4 persen.. Sering sekali inflasi yang lebih serius, yaitu yang tingkatnya mencapai 5 sampai 10 persen atau sedikit lebih tinggi, akan berlaku. Pada waktu peperangan atau ketidakstabilan politik, inflasi dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi yang kenaikan tersebut dinamakan hiperinflasi (Sukirno, 2004).Akibat buruk inflasi pada perekonomian yang oleh sebagian ahli ekonomi berpendapat bahwainflasiyang sangat lambat berlakunya dipandang sebagai stimulator bagi pertumbuhan ekonomi. Kenaikan harga tersebut tidak secepatnya diikuti oleh kenaikan upah pekerja, maka keuntungan akan bertambah. Pertambahan keuntungan akan menggalakkan investasi di masa akan datang dan ini akan menyebabkan percepatan dalam pertumbuhan ekonomi. Tetapi jika inflasi lebih serius keadaannyaperekonomiantidak akan berkembang seperti yang diinginkan.Pengalaman beberapa Negara yang pernah mengalami hiperinflasi menunjukkan bahwa inflasi yang buruk akan menimbulkan ketidakstabilan social dan politik, dan tidak mewujudkan pertumbuhanekonomi (Sukirno, 2004).Baru – baru ini pada Agustus 2007 tingkat inflasi di indonesia mencapai 0,75 persen telah melampaui ekspektasi atau kenaikan harga – harga. Tingkat inflasi Agustus 2007 dibanding bulan juli yang sama tahun lalu hanya 0,33 persen.Sedangkan inflasi year on year (Agustus 2007 terhadap Agustus 2006) mencapai 6,51 persen. Inflasiyear on year tersebut juga lebih tinggi dari bulan lalu yang mencapai 6,06 persen (Sri Mulyani, 2007).Inflasi merupakan salah satu peristiwa moneteryang sangat penting dan dijumpai di hampir semua Negara di dunia. Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada atau mengakibatkan kenaikan sebagian besar dari barang-barang lain (Boediono, 1995).Menurut A.P. Lehner inflasi adalah keadaan dimana terjadi kelebihan permintaan (Excess Demand) terhadap barang-barang dalam perekonomian secara keseluruhan (Anton H. Gunawan, 1991). Sementara itu Ackley mendefinisikan inflasi sebagai suatu kenaikan harga yang terus menerus dari barang dan jasa secara umum (bukan satu macam barang saja dan sesaat). Menurut definisi ini, kenaikan harga yang sporadis bukan dikatakan sebagai inflasi (Iswardono, 1990).Bank Indonnesia sebagai otoritas moneter memegang kendali yang sangat strategis dalam menciptakan kebijakan moneter yang stabil dalam perekonomian nasional, Namun dalam perjalanannya kebijakan Bank Indonesia yang dibuat atau kebijakan yang diambil Bank Indonesia menjadi tidak efektif dan bahkan tidak efisien sebagaimana yang dinginkan oleh bank Indonesia terhadap kebijakan tersebut untuk perekonomian.Bank Indonesia harus dapat mengukur peredaran uang, antara lain dengan menentukan tingkat suku bunga SBI, selain itu pemerintah juga memegang peranan penting dalam mengendalikan laju inflasiuntuk itu salah satu kebijakannya adalah mengatur pengeluaran untuk pengeluaran rutinnya (government expenditure). Dilain pihak sektor luar negeri juga cukup memegang peranan dalam mengendalikan inflasi diantaranya yaitu penerimaan export. Dengan demikian laju pertumbuhaninflasi dapat dikendalikan ditekan atau bahkan kemunculannya dapat dicegah.Oleh karena itu untuk dapat mencapai dan menjaga tingkat inflasi yang rendah dan stabil diperlukan adanya kerjasama dan kemitraan dari seluruh pelaku ekonomi. Mulai dari bank indonesia, pemerintah maupun swasta inflasi tidak boleh diabaikan begitu saja, karena dapat menimbulkan dampak yang sangat luas. Inflasi yang sangat tinggi sangat penting diperhatikan mengingat dampaknya bagi perekonomian yang bisa menimbulkan ketidakstabilan, pertumbuhan ekonomi yang lambat dan pengangguranyang meningkat. Dengan hal tersebut, upaya mengendalikan inflasi agar stabil sangat penting untuk dilakukan.Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang di peroleh dari BI (Bank Indonesia) dan BPS (Badan Pusat Statistik). Variabel yang di gunakan antara lain : permintaan uang, tabungan domestik, produk domestik bruto, tingkat suku bunga bank, dan kurs dollar terhadap rupiah.Metode yang digunakan adalah metode destkriptif dan kuantitatif, yaitu menggambarkan suatu permasalahan dengan menganalisis data dan hal-hal yang berhubungan dengan rumus perhitungan yang digunakan untuk menganalisis masalah yang sedang diteliti. Adapun metode analisis yang digunakan peneliti yaitu dengan Metode Mackinnon, White dan Davidson (uji MWD). Dari hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa permintaan uang dan tingkat suku bunga berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap inflasi, sedangkan produk domestik bruto (PDB)berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap inflasidan kurstidak  mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap inflasi di Indonesia pada kuartal tahun penelitian.

Untuk konsultasi mengenai Olahdata lebih lanjut, silahkan menghubungi:

CS : 021-71088944 – 0819 4505 9000

YM : abays_khan

e-mail : info@bengkeldata.com

Beta Consulting

http://www.olah-data.com

http://www.bengkeldata.com

Analisa Data : Analisis Data Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Inflasi di Indonesia

Inflasi merupakan penyakit ekonomi yang tidak bisa diabaikan, karena dapat menimbulkan dampak yang sangat luas. Oleh karena itu inflasi seringkali menjadi target kebijakan pemerintah. Inflasi yang tinggi begitu penting untuk diperhatikan mengingat dampaknya bagi perekonomian yang dapat menimbulkan ketidakstabilan, pertumbuhan ekonomi yang lambat, dan pengangguran yang selalu meningkat.
Seperti pengangguran, inflasi juga merupakan masalah yang selalu dihadapi dalam  perekonomiansuatu negara. Sampai di mana buruknya masalah inflasi ini berbeda antara satu waktu ke waktu yang lain, dan berbeda pula dari satu negara ke negara lain. Tingkat inflasi yaitu persentasi kenaikan harga – harga dalam suatu tahun tertentu, biasanya digunakan sebagai ukuran untuk menunjukkan baik buruknya masalah ekonomi yang dihadapi. Dalam perekonomian yang pesat berkembang inflasi yang rendah tingkatnya dinamakan inflasi merayap yaitu inflasi yang mencapai 2 sampai 4 persen.. Sering sekali inflasi yang lebih serius, yaitu yang tingkatnya mencapai 5 sampai 10 persen atau sedikit lebih tinggi, akan berlaku. Pada waktu peperangan atau ketidakstabilan politik, inflasi dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi yang kenaikan tersebut dinamakan hiperinflasi (Sukirno, 2004).
Akibat buruk inflasi pada perekonomian yang oleh sebagian ahli ekonomi berpendapat bahwainflasiyang sangat lambat berlakunya dipandang sebagai stimulator bagi pertumbuhan ekonomi. Kenaikan harga tersebut tidak secepatnya diikuti oleh kenaikan upah pekerja, maka keuntungan akan bertambah. Pertambahan keuntungan akan menggalakkan investasi di masa akan datang dan ini akan menyebabkan percepatan dalam pertumbuhan ekonomi. Tetapi jika inflasi lebih serius keadaannyaperekonomiantidak akan berkembang seperti yang diinginkan.
Pengalaman beberapa Negara yang pernah mengalami hiperinflasi menunjukkan bahwa inflasi yang buruk akan menimbulkan ketidakstabilan social dan politik, dan tidak mewujudkan pertumbuhanekonomi (Sukirno, 2004).
Baru – baru ini pada Agustus 2007 tingkat inflasi di indonesia mencapai 0,75 persen telah melampaui ekspektasi atau kenaikan harga – harga. Tingkat inflasi Agustus 2007 dibanding bulan juli yang sama tahun lalu hanya 0,33 persen.
Sedangkan inflasi year on year (Agustus 2007 terhadap Agustus 2006) mencapai 6,51 persen. Inflasiyear on year tersebut juga lebih tinggi dari bulan lalu yang mencapai 6,06 persen (Sri Mulyani, 2007).
Inflasi merupakan salah satu peristiwa moneter yang sangat penting dan dijumpai di hampir semua Negara di dunia. Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada atau mengakibatkan kenaikan sebagian besar dari barang-barang lain (Boediono, 1995).
Menurut A.P. Lehner inflasi adalah keadaan dimana terjadi kelebihan permintaan (Excess Demand) terhadap barang-barang dalam perekonomian secara keseluruhan (Anton H. Gunawan, 1991). Sementara itu Ackley mendefinisikan inflasi sebagai suatu kenaikan harga yang terus menerus dari barang dan jasa secara umum (bukan satu macam barang saja dan sesaat). Menurut definisi ini, kenaikan harga yang sporadis bukan dikatakan sebagai inflasi (Iswardono, 1990).
Bank Indonnesia sebagai otoritas moneter memegang kendali yang sangat strategis dalam menciptakan kebijakan moneter yang stabil dalam perekonomian nasional, Namun dalam perjalanannya kebijakan Bank Indonesia yang dibuat atau kebijakan yang diambil Bank Indonesia menjadi tidak efektif dan bahkan tidak efisien sebagaimana yang dinginkan oleh bank Indonesia terhadap kebijakan tersebut untuk perekonomian.
Bank Indonesia harus dapat mengukur peredaran uang, antara lain dengan menentukan tingkat suku bunga SBI, selain itu pemerintah juga memegang peranan penting dalam mengendalikan laju inflasiuntuk itu salah satu kebijakannya adalah mengatur pengeluaran untuk pengeluaran rutinnya (government expenditure). Dilain pihak sektor luar negeri juga cukup memegang peranan dalam mengendalikan inflasi diantaranya yaitu penerimaan export. Dengan demikian laju pertumbuhaninflasi dapat dikendalikan ditekan atau bahkan kemunculannya dapat dicegah.
Oleh karena itu untuk dapat mencapai dan menjaga tingkat inflasi yang rendah dan stabil diperlukan adanya kerjasama dan kemitraan dari seluruh pelaku ekonomi. Mulai dari bank indonesia, pemerintah maupun swasta inflasi tidak boleh diabaikan begitu saja, karena dapat menimbulkan dampak yang sangat luas. Inflasi yang sangat tinggi sangat penting diperhatikan mengingat dampaknya bagi perekonomian yang bisa menimbulkan ketidakstabilan, pertumbuhan ekonomi yang lambat dan pengangguran yang meningkat. Dengan hal tersebut, upaya mengendalikan inflasi agar stabil sangat penting untuk dilakukan.
Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang di peroleh dari BI (Bank Indonesia) dan BPS (Badan Pusat Statistik). Variabel yang di gunakan antara lain : permintaan uang, tabungan domestik, produk domestik bruto, tingkat suku bunga bank, dan kurs dollar terhadap rupiah.
Metode yang digunakan adalah metode destkriptif dan kuantitatif, yaitu menggambarkan suatu permasalahan dengan menganalisis data dan hal-hal yang berhubungan dengan rumus perhitungan yang digunakan untuk menganalisis masalah yang sedang diteliti. Adapun metode analisis yang digunakan peneliti yaitu dengan Metode Mackinnon, White dan Davidson (uji MWD).
Dari hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa permintaan uang dan tingkat suku bunga berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap inflasi, sedangkan produk domestik bruto (PDB)berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap inflasi dan kurs tidak  mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap inflasi di Indonesia pada kuartal tahun penelitian.

Inflasi merupakan penyakit ekonomi yang tidak bisa diabaikan, karena dapat menimbulkan dampak yang sangat luas. Oleh karena itu inflasi seringkali menjadi target kebijakan pemerintah. Inflasi yang tinggi begitu penting untuk diperhatikan mengingat dampaknya bagi perekonomian yang dapat menimbulkan ketidakstabilan, pertumbuhan ekonomi yang lambat, dan pengangguran yang selalu meningkat.

Seperti pengangguraninflasi juga merupakan masalah yang selalu dihadapi dalam  perekonomian suatu negara. Sampai di mana buruknya masalah inflasi ini berbeda antara satu waktu ke waktu yang lain, dan berbeda pula dari satu negara ke negara lain. Tingkat inflasi yaitu persentasi kenaikan harga – harga dalam suatu tahun tertentu, biasanya digunakan sebagai ukuran untuk menunjukkan baik buruknya masalah ekonomiyang dihadapi. Dalam perekonomian yang pesat berkembang inflasi yang rendah tingkatnya dinamakan inflasi merayap yaitu inflasi yang mencapai 2 sampai 4 persen. Sering sekali inflasi yang lebih serius, yaitu yang tingkatnya mencapai 5 sampai 10 persen atau sedikit lebih tinggi, akan berlaku. Pada waktu peperangan atau ketidakstabilan politik, inflasi dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi yang kenaikan tersebut dinamakan hiperinflasi (Sukirno, 2004).

Akibat buruk inflasi pada perekonomian yang oleh sebagian ahli ekonomi berpendapat bahwa inflasi yang sangat lambat berlakunya dipandang sebagai stimulator bagi pertumbuhan ekonomi. Kenaikan harga tersebut tidak secepatnya diikuti oleh kenaikan upah pekerja, maka keuntungan akan bertambah. Pertambahan keuntungan akan menggalakkan investasi di masa akan datang dan ini akan menyebabkan percepatan dalam pertumbuhan ekonomi. Tetapi jika inflasi lebih serius keadaannya perekonomian tidak akan berkembang seperti yang diinginkan.
Pengalaman beberapa Negara yang pernah mengalami hiperinflasi menunjukkan bahwainflasi yang buruk akan menimbulkan ketidakstabilan social dan politik, dan tidak mewujudkan pertumbuhan ekonomi (Sukirno, 2004).Baru – baru ini pada Agustus 2007 tingkat inflasi di indonesia mencapai 0,75 persen telah melampaui ekspektasi atau kenaikan harga – harga. Tingkat inflasi Agustus 2007 dibanding bulan juli yang sama tahun lalu hanya 0,33 persen.Sedangkan inflasi year on year (Agustus 2007 terhadap Agustus 2006) mencapai 6,51 persen. Inflasi year on year tersebut juga lebih tinggi dari bulan lalu yang mencapai 6,06 persen (Sri Mulyani, 2007).

Inflasi merupakan salah satu peristiwa moneter yang sangat penting dan dijumpai di hampir semua Negara di dunia. Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada atau mengakibatkan kenaikan sebagian besar dari barang-barang lain (Boediono, 1995).

Menurut A.P. Lehner inflasi adalah keadaan dimana terjadi kelebihan permintaan (Excess Demand) terhadap barang-barang dalam perekonomian secara keseluruhan (Anton H. Gunawan, 1991). Sementara itu Ackley mendefinisikan inflasi sebagai suatu kenaikan harga yang terus menerus dari barang dan jasa secara umum (bukan satu macam barang saja dan sesaat). Menurut definisi ini, kenaikan harga yang sporadis bukan dikatakan sebagai inflasi (Iswardono, 1990).

Bank Indonesia sebagai otoritas moneter memegang kendali yang sangat strategis dalam menciptakan kebijakan moneter yang stabil dalam perekonomian nasional, Namun dalam perjalanannya kebijakan Bank Indonesia yang dibuat atau kebijakan yang diambil Bank Indonesia menjadi tidak efektif dan bahkan tidak efisien sebagaimana yang dinginkan oleh bank Indonesia terhadap kebijakan tersebut untuk perekonomian.

Bank Indonesia harus dapat mengukur peredaran uang, antara lain dengan menentukan tingkat suku bunga (SBI), selain itu pemerintah juga memegang peranan penting dalam mengendalikan laju inflasi untuk itu salah satu kebijakannya adalah mengatur pengeluaran untuk pengeluaran rutinnya (government expenditure). Dilain pihak sektor luar negeri juga cukup memegang peranan dalam mengendalikan inflasi diantaranya yaitu penerimaan export. Dengan demikian laju pertumbuhan inflasi dapat dikendalikan ditekan atau bahkan kemunculannya dapat dicegah.
Oleh karena itu untuk dapat mencapai dan menjaga tingkat inflasi yang rendah dan stabil diperlukan adanya kerjasama dan kemitraan dari seluruh pelaku ekonomi. Mulai dari bank indonesia, pemerintah maupun swasta inflasi tidak boleh diabaikan begitu saja, karena dapat menimbulkan dampak yang sangat luas. Inflasi yang sangat tinggi sangat penting diperhatikan mengingat dampaknya bagi perekonomian yang bisa menimbulkan ketidakstabilan, pertumbuhan ekonomi yang lambat dan pengangguran yang meningkat. Dengan hal tersebut, upaya mengendalikan inflasi agar stabil sangat penting untuk dilakukan.

Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang di peroleh dari BI (Bank Indonesia) dan BPS (Badan Pusat Statistik). Variabel yang di gunakan antara lain : permintaan uang, tabungan domestik, produk domestik bruto, tingkat suku bunga bank, dan kurs dollar terhadap rupiah.
Metode yang digunakan adalah metode destkriptif dan kuantitatif, yaitu menggambarkan suatu permasalahan dengan menganalisis data dan hal-hal yang berhubungan dengan rumus perhitungan yang digunakan untuk menganalisis masalah yang sedang diteliti. Adapun metode analisis yang digunakan peneliti yaitu denganMetode Mackinnon, White dan Davidson (uji MWD).

Dari hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa permintaan uang dan tingkat suku bunga berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap inflasi, sedangkan produk domestik bruto (PDB) berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap inflasidankurs tidak  mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap inflasi di Indonesia pada kuartal tahun penelitian.

Inflasi merupakan penyakit ekonomi yang tidak bisa diabaikan, karena dapat menimbulkan dampak yang sangat luas. Oleh karena itu inflasi seringkali menjadi target kebijakan pemerintah. Inflasi yang tinggi begitu penting untuk diperhatikan mengingat dampaknya bagi perekonomian yang dapat menimbulkan ketidakstabilan, pertumbuhan ekonomi yang lambat, dan pengangguran yang selalu meningkat.Seperti pengangguran, inflasi juga merupakan masalah yang selalu dihadapi dalam  perekonomiansuatu negara. Sampai di mana buruknya masalah inflasi ini berbeda antara satu waktu ke waktu yang lain, dan berbeda pula dari satu negara ke negara lain. Tingkat inflasi yaitu persentasi kenaikan harga – harga dalam suatu tahun tertentu, biasanya digunakan sebagai ukuran untuk menunjukkan baik buruknya masalah ekonomi yang dihadapi. Dalam perekonomian yang pesat berkembang inflasi yang rendah tingkatnya dinamakan inflasi merayap yaitu inflasi yang mencapai 2 sampai 4 persen.. Sering sekali inflasi yang lebih serius, yaitu yang tingkatnya mencapai 5 sampai 10 persen atau sedikit lebih tinggi, akan berlaku. Pada waktu peperangan atau ketidakstabilan politik, inflasi dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi yang kenaikan tersebut dinamakan hiperinflasi (Sukirno, 2004).Akibat buruk inflasipada perekonomian yang oleh sebagian ahli ekonomi berpendapat bahwainflasi yang sangat lambat berlakunya dipandang sebagai stimulator bagi pertumbuhan ekonomi. Kenaikan harga tersebut tidak secepatnya diikuti oleh kenaikan upah pekerja, maka keuntungan akan bertambah. Pertambahan keuntungan akan menggalakkan investasi di masa akan datang dan ini akan menyebabkan percepatan dalam pertumbuhan ekonomi. Tetapi jika inflasi lebih serius keadaannyaperekonomian tidak akan berkembang seperti yang diinginkan.Pengalaman beberapa Negara yang pernah mengalami hiperinflasimenunjukkan bahwa inflasi yang buruk akan menimbulkan ketidakstabilan social dan politik, dan tidak mewujudkan pertumbuhanekonomi (Sukirno, 2004).Baru – baru ini pada Agustus 2007 tingkat inflasi di indonesia mencapai 0,75 persen telah melampaui ekspektasi atau kenaikan harga – harga. Tingkat inflasi Agustus 2007 dibanding bulan juli yang sama tahun lalu hanya 0,33 persen.Sedangkan inflasi year on year (Agustus 2007 terhadap Agustus 2006) mencapai 6,51 persen. Inflasiyear on year tersebut juga lebih tinggi dari bulan lalu yang mencapai 6,06 persen (Sri Mulyani, 2007).Inflasimerupakan salah satu peristiwa moneter yang sangat penting dan dijumpai di hampir semua Negara di dunia. Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada atau mengakibatkan kenaikan sebagian besar dari barang-barang lain (Boediono, 1995).Menurut A.P. Lehner inflasi adalah keadaan dimana terjadi kelebihan permintaan (Excess Demand) terhadap barang-barang dalam perekonomian secara keseluruhan (Anton H. Gunawan, 1991). Sementara itu Ackley mendefinisikan inflasi sebagai suatu kenaikan harga yang terus menerus dari barang dan jasa secara umum (bukan satu macam barang saja dan sesaat). Menurut definisi ini, kenaikan harga yang sporadis bukan dikatakan sebagai inflasi (Iswardono, 1990).Bank Indonnesia sebagai otoritas moneter memegang kendali yang sangat strategis dalam menciptakan kebijakan moneter yang stabil dalam perekonomian nasional, Namun dalam perjalanannya kebijakan Bank Indonesia yang dibuat atau kebijakan yang diambil Bank Indonesia menjadi tidak efektif dan bahkan tidak efisien sebagaimana yang dinginkan oleh bank Indonesia terhadap kebijakan tersebut untuk perekonomian.Bank Indonesia harus dapat mengukur peredaran uang, antara lain dengan menentukan tingkat suku bunga SBI, selain itu pemerintah juga memegang peranan penting dalam mengendalikan laju inflasiuntuk itu salah satu kebijakannya adalah mengatur pengeluaran untuk pengeluaran rutinnya (government expenditure). Dilain pihak sektor luar negeri juga cukup memegang peranan dalam mengendalikan inflasi diantaranya yaitu penerimaan export. Dengan demikian laju pertumbuhaninflasi dapat dikendalikan ditekan atau bahkan kemunculannya dapat dicegah.Oleh karena itu untuk dapat mencapai dan menjaga tingkat inflasi yang rendah dan stabil diperlukan adanya kerjasama dan kemitraan dari seluruh pelaku ekonomi. Mulai dari bank indonesia, pemerintah maupun swasta inflasi tidak boleh diabaikan begitu saja, karena dapat menimbulkan dampak yang sangat luas. Inflasi yang sangat tinggi sangat penting diperhatikan mengingat dampaknya bagiperekonomian yang bisa menimbulkan ketidakstabilan, pertumbuhan ekonomi yang lambat danpengangguranyang meningkat. Dengan hal tersebut, upaya mengendalikan inflasi agar stabil sangat penting untuk dilakukan.Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang di peroleh dari BI (Bank Indonesia) dan BPS (Badan Pusat Statistik). Variabel yang di gunakan antara lain : permintaan uang, tabungan domestik, produk domestik bruto, tingkat suku bunga bank, dan kurs dollar terhadap rupiah.Metode yang digunakan adalah metode destkriptif dan kuantitatif, yaitu menggambarkan suatu permasalahan dengan menganalisis data dan hal-hal yang berhubungan dengan rumus perhitungan yang digunakan untuk menganalisis masalah yang sedang diteliti. Adapun metode analisis yang digunakan peneliti yaitu dengan Metode Mackinnon, White dan Davidson (uji MWD).Dari hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa permintaan uang dan tingkat suku bunga berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap inflasi, sedangkan produk domestik bruto (PDB)berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap inflasi dan kurs tidak  mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap inflasi di Indonesia pada kuartal tahun penelitian.

Untuk konsultasi mengenai Olahdata lebih lanjut, silahkan menghubungi:

CS : 021-71088944 – 0819 4505 9000

YM : abays_khan

e-mail : info@bengkeldata.com

Beta Consulting

http://www.olah-data.com

http://www.bengkeldata.com

Analisa Data : Analisis Data Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Simpanan Masyarakat pada Bank X Periode 2001 – 2006

Berdasarkan hasil empiris serta analisis penelitian mengenai Faktor –  faktor yang mempengaruhi simpanan masyarakat pada Bank X periode tahun 2001.1 sampai dengan 2006.4 maka dapat disimpulakan sebagai berikut :
Untuk uji kebaikan model (Uji F dan R²) menunjukan bahwa model cukup bagus karena secara bersama – sama variabel imbalan bagi hasil (X1), jumlah kantor cabang (X2), suku bunga (X3), dan simpanan masyarakat periode sebelumnnya (Y(-1) berpengaruh secara bersama –  sama terhadap simpanan masyarakat periode sekarang dengan nilai variasi pengaruh sebesar  99 % ( yang  berarti bahwa 99% variasi berpengaruh terhadap simpanan masyarakat pada Bank X dapat diterangkan oleh variasi dari variabel yang digunakan dalam model, sedangkan sisanya sekitar 1% dijelaskan oleh variabel lainya diluar model.
Berdasarkan pengujian secara individu dengan menggunakan uji t atas pengaruh imbalan bagi hasil (X1), jumlah kantor cabang (X2), suku bunga (X3), simpanan masyarakat periode yang lalu (Y(-1)) dapat disimpulkan bahwa :
-Variabel independent suku bunga deposito bank konvensional tidak berpengaruh signifikan pada jangka panjang dan jangka pandek terhadap simpanan masyarakat pada Bank X. Hal ini terjadi karena melihat kondisi ekonomi yang tidak stabil terutama nilai suku bunga yang terus berubah mengikuti perekonomian dunia.
-Berdasarkan uji t menunjukan ada tiga variabel yang berpengaruh terhadap simpanan masyarakat pada Bank X yaitu varibel imbalan bagi hasil yang berpengaruh positif pada jangka pendek dan jangka panjang, jumlah kantor cabang berpengaruh positif dalam jangka pendek dan jangka panjang, dan simpanan masyarakat periode yang lalu juga berpengaruh positif.
Hasil analisis model PAM diperoleh bahwa koefisien jangka panjang lebih besar dari pada koefisien jangka pendek artinya jangka panjang lebih peka terhadap adanya perubahan – perubahan itu dapat berupa kenaikan ataupun penurunan simpanan masyarakat pada Bank X.
Adapun beberapa implikasi dari penelitian tersebut :
>Hasil penelitian menunjukan bahwa suku bunga tidak berpengaruh terhadap simpanan masyarakat, dalam hal ini Bank X harus lebih meningkatkan lagi pelayanan sehingga memungkinkan masyarakat tetap tertarik untuk menginvestasikan dananya melalui cara-cara penawaran baik itu dari produk-produk maupun dari bagi hasil yang bersaing dengan bunga.
>Hasil penelitian menunjukan bahwa imbalan bagi hasil berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap simpanan masyarakat, sehingga dengan adanya peningkatan imbalan bagi hasil maka akan menambah minat dari masyarakat untuk menyimpan uangnya di Bank X, sehingga dengan begitu jumlah simpanan masyarakat dalam bentuk investasi tidak terikat akan meningkat.
Hasil penelitian menunjukan bahwa jumlah kantor cabang pada Bank X berpengaruh positif dan signifikan. Kemampuan Bank X dalam mnjangkau lokasi nasabah menunjukan hasil yang memuaskan, dengan tingginya jumlah kantor cabang akan menambah kepercayaan masyarakat terhadap Bank X, masyarakat tertarik karena lokasi yang terjangkau sehingga meningkatkan jumlah simpanan.

Berdasarkan hasil empiris serta analisis penelitian mengenai <span style=”font-weight:bold;”>Faktor –  faktor yang mempengaruhi simpanan masyarakat pada Bank X periode tahun 2001.1 sampai dengan 2006.4</span> maka dapat disimpulakan sebagai berikut :
Untuk uji kebaikan model (Uji F dan R²) menunjukan bahwa model cukup bagus karena secara bersama – sama variabel imbalan bagi hasil (X1), jumlah kantor cabang (X2), suku bunga (X3), dan simpanan masyarakat periode sebelumnnya (Y(-1) berpengaruh secara bersama –  sama terhadap simpanan masyarakat periode sekarang dengan nilai variasi pengaruh sebesar  99 % ( yang  berarti bahwa 99% variasi berpengaruh terhadap simpanan masyarakat pada Bank X dapat diterangkan oleh variasi dari variabel yang digunakan dalam model, sedangkan sisanya sekitar 1% dijelaskan oleh variabel lainya diluar model.
Berdasarkan pengujian secara individu dengan menggunakan uji t atas pengaruh imbalan bagi hasil (X1), jumlah kantor cabang (X2), suku bunga (X3), simpanan masyarakat periode yang lalu (Y(-1)) dapat disimpulkan bahwa :

-Variabel independent suku bunga deposito bank konvensional tidak berpengaruh signifikan pada jangka panjang dan jangka pandek terhadap simpanan masyarakat pada Bank X. Hal ini terjadi karena melihat kondisi ekonomi yang tidak stabil terutama nilai suku bunga yang terus berubah mengikuti perekonomian dunia.

-Berdasarkan uji t menunjukan ada tiga variabel yang berpengaruh terhadap simpanan masyarakat pada Bank X yaitu varibel imbalan bagi hasil yang berpengaruh positif pada jangka pendek dan jangka panjang, jumlah kantor cabang berpengaruh positif dalam jangka pendek dan jangka panjang, dan simpanan masyarakat periode yang lalu juga berpengaruh positif.

Hasil analisis model PAM diperoleh bahwa koefisien jangka panjang lebih besar dari pada koefisien jangka pendek artinya jangka panjang lebih peka terhadap adanya perubahan – perubahan itu dapat berupa kenaikan ataupun penurunan simpanan masyarakat pada Bank X.
Adapun beberapa implikasi dari penelitian tersebut :
Hasil penelitian menunjukan bahwa suku bunga tidak berpengaruh terhadap simpanan masyarakat, dalam hal ini Bank X harus lebih meningkatkan lagi pelayanan sehingga memungkinkan masyarakat tetap tertarik untuk menginvestasikan dananya melalui cara-cara penawaran baik itu dari produk-produk maupun dari bagi hasil yang bersaing dengan bunga.
Hasil penelitian menunjukan bahwa imbalan bagi hasil berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap simpanan masyarakat, sehingga dengan adanya peningkatan imbalan bagi hasil maka akan menambah minat dari masyarakat untuk menyimpan uangnya di Bank X, sehingga dengan begitu jumlah simpanan masyarakat dalam bentuk investasi tidak terikat akan meningkat.
Hasil penelitian menunjukan bahwa jumlah kantor cabang pada Bank X berpengaruh positif dan signifikan. Kemampuan Bank X dalam mnjangkau lokasi nasabah menunjukan hasil yang memuaskan, dengan tingginya jumlah kantor cabang akan menambah kepercayaan masyarakat terhadap Bank X, masyarakat tertarik karena lokasi yang terjangkau sehingga meningkatkan jumlah simpanan.