Liputan Bengkeldata di Tabloid Peluang Usaha Edisi 04 • Th X • 12 – 25 Desember 2014 Hal 32-33

Beta Consulting (Bengkeldata.com) – Market Research Perusahaan hingga Perorangan. Semakin ketatnya persaingan pasar yang terjadi di Indonesia membuat beberapa perusahaan pun tidak asal-asalan dalam menentukan langkah bisnis, apalagi saat ini Indonesia akan dihadapkan pada Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), maka kompetisi dalam dunia bisnis pun juga akan semakin banyak. Dengan demikian, persaingan yang akan datang juga tidak hanya pengusaha dalam negeri saja, melainkan juga datang dari para pengusaha asing. Kondisi inilah yang dimanfaatkan sebagai peluang oleh Sopana untuk mendirikan usaha jasa market research atau riset pasar. Keahliannya dalam mengolah data yang pernah didapat semasa kuliah di Jurusan Matematika FMIPA Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo Jawa Tengah ternyata menjadi modal utama bagi Sopana untuk mendirikan usaha market research. Ide mendirikan usaha ini muncul saat ia sedang menghadiri acara reuni bersama mahasiswa angkatannya di Jakarta pada tahun 2008. “Saat reuni di sana saya bertemu dengan teman-teman dari berbagai macam daerah, dari situlah saya kemudian terbesit untuk membangun jasa market research, toh nanti saya juga bisa bekerja sama dengan beberapa teman-teman yang ada di beberapa daerah tersebut untuk melakukan sebuah riset,” ujar Sopana. Sambil bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi Sopana pun mulai meluangkan waktu kosongnya untuk merintis usaha jasa market research kecil-kecilan dengan mengusung brand Beta Consulting. “Waktu itu usaha market research ini masih hanya sekadar usaha sampingan, tapi di sini saya yakin usaha ini akan maju,” optimisnya. Melihat usaha ini terus berkembang, Sopana pun memutuskan untuk resign dari tempat ia bekerja demi fokus menggeluti usaha sampingan tersebut. Selanjutnya pada tahun 2012 Sopana menggelontorkan modal sebesar Rp 5 juta yang digunakan sebagai ongkos transportasi dan ekspansi yang lebih luas dengan melakukan pemasaran yang bagus. Menurut Sopana modal untuk menjalankan usaha ini selain komputer adalah modal tim yang kuat, mulai dari tim penanggung jawab, tim ahli hingga tim lapangan dan pengetahuan tentang ilmu statistik. Secara garis besar ilmu yang harus dimiliki dalam menjalankan usaha ini adalah ilmu analisis statistik hal ini berguna untuk mengetahui dan menganalisis kemampuan pasar. Di awal usaha, Sopana menemukan kendala yaitu kesulitan membangun tim yang kuat sehingga ia terpaksa harus mempunyai cadangan tim utama untuk menggantikan sewaktu-waktu diperlukan. Lambat laun usahanya pun semakin banyak dikenal oleh masyarakat sehingga usahanya semakin maju dan mengalami peningkatan klien dari waktu ke waktu. Baca lebih lanjut

Iklan

Tips Ampuh Bagaimana Menulis Skripsi / Tesis

Sahabat Tweeps & FB-ers, kali ini kami akan memberikan tips menulis Skripsi tesis .. Yuuk dipantengin yaaa.

Skripsi tesis mnjd momok yg menakutkan. jadi mimpi buruk. Slalu hinggap di ingatan saat makan, jalan-jalan / beraktivitas sehari2 lainnya.

Banyak mahasiswa kedodoran dlm menyelesaikan Skripsi tesis hingga berbulan-bulan tak terasa biaya kuliah membengkak, hingga ancaman DO. olrait?

Malas, tiada semangat di dada & tiada faktor pemicu untuk bergerak. Dan tentunya seribu macam alasan lainnya membuat Skripsi tesis mangkrak.

Bagaimana mungkin membuat Skripsi / tesis sedangkan untuk membuat satu paragraf saja susah. Sebenarnya satu saja kuncinya: BANYAK LATIHAN!

Jadi tips ke-1 adalah perbanyak latihan menulis. Then agar kita segera bisa terpacu, coba berusaha untuk mengumpulkan teman-teman yang punya problem sama.

Adakan pertemuan khusus untuk membahas Skripsi tesis. Biasanya akan muncul gagasan baru, semangat baru & perencanaan baru secara bersama-sama.

Tips selanjutnya dibahas DI SINI   🙂

Jangan lupa selalu berdoa meminta kepada-Nya, agar Skripsi tesis kita lancar tanpa aral lintang yg berarti .

Demikianlah tips2 menulis Skripsi tesis … Keep Moving Forward! Majuuu Jalan! 🙂

Quote this day: “Tuhan tdk akan mengubah nasib seseorang,jika orang itu tdk mau merubah dirinya sendiri”. Happy MONeyDAY All…

Apa dan Bagaimana Konsep Kepuasan Pelanggan ( Customer Satisfaction Concept )

Kepuasan pelanggan atau customer satisfaction merupakan suatu tingkatan dimana kebutuhan, keinginan dan harapan dari pelanggan dapat terpenuhi yang  akan mengakibatkan terjadinya pembelian ulang atau kesetiaan yang berlanjut (Band, 1991).  Faktor yang paling penting untuk menciptakan kepuasan pelanggan / kepuasan konsumen adalah kinerja dari agen yang biasanya diartikan dengan kualitas dari agen tersebut (Mowen, 1995). Produk jasa berkualitas mempunyai peranan penting untuk membentuk kepuasan pelanggan (Kotler dan Armstrong, 1996).

Kami melayani analisis data kepuasan pelanggan hubungi Bengkeldata.Com :

CS  : 0819 4505 9000 WA : 0838 0405 9000

Pin BB : 7426 1930 Twitter : @bengkeldata

Email   : info@bengkeldata.com – bengkeldata@gmail.com

Pembahasan lengkap artikel ini, silahkan klik link berikut:

Apa dan Bagaimana Konsep Kepuasan Pelanggan (Customer Satisfaction) dan Loyalitas Pelanggan (Customer Loyalty)

Artikel terkait :

Apa dan Bagaimana Konsep Kepuasan Pelanggan ( Customer Satisfaction Concept )

8 Faktor Utama Demi Terciptanya Kepuasan Pelanggan

Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan ?

Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan

 

Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan. Definisi Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction), Pengertian Kepuasan Pelanggan/ Konsumen (Customer Satisfaction) dan Definisi Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Pengertian Loyalitas Pelanggan/ Konsumen (Customer Loyalty),  Faktor-Faktor Utama Terciptanya Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Cara Mengukur Kepuasan Pelanggan, Bagaimana Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan.

Analisa Data Statistik : Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Volatilitas Cadangan Devisa Indonesia menggunakan Time Series Analysis dengan Metode ARCH – GARCH dan VAR

Data finansial seperti cadangan devisa, nilai tukar, maupun tingkat suku bunga mempunyai karakteristik tersendiri dibandingkan data deret waktu (time series). Beberapa karakteristik dari data finansial yaitu menunjukan volatilitas yang tinggi mengikuti periode waktu, sedangkan variansi/ragam adalah konstan untuk data jangka waktu yang panjang.

Dalam beberapa periode terdapat variansi/ragam data finansial relatif tinggi. Keadaan ini disebut conditionally heteroskedastic. Jika terdeteksi adanya conditionally heteroskedastic maka model autoregressive moving average (ARMA) tidak akurat lagi untuk digunakan. Model deret waktu (time series) yang mengakomodir adanya heteroskedastic / heteroskedastisitas adalah ARCH (Autoregressive Conditional Heteroscedasticity) / GARCH (General Autoregressive Conditional Heteroscedasticity) . Model lain selain ARCH & GARCH adalah TARCH, E-GARCH, M-GARCH, TGARCH dan lain-lain.

Variabel-variabel ekonomi biasanya nonstasioner dan mempunyai sifat kointegrasi, sehingga model statistik yang dibentuk harus dapat mengatasi dan mencerminkan sifat tersebut. Metode yang sesuai dengan permasalahan ini adalah metode VAR (Vector Autoregression).

Variabel yang digunakan sebanyak lima variabel makro ekonomi. Kelima Variabel tersebut yakni cadangan devisa, nilai tukar rupiah terhadap USD, tingkat suku bunga, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan netto ekspor.

Metodologi yang digunakan dimulai dengan metode ARCH/GARCH yang fungsinya untuk mengatahui ada tidaknya volatilitas dari masing-masing variabel yang diteliti. Selanjutnya dengan metode VAR akan selidiki pengaruh volatilitas dari variabel nilai tukar, suku bunga, IHSG dan neto ekspor terhadap volatilitas cadangan devisa. Hasil model VAR yang diperoleh tersebut kemudian digunakan untuk melakukan uji berikutnya yaitu uji kointegrasi Johansen untuk mengetahui hubungan keseimbangan jangka panjang dan Vector Error Correction Mechanism (VECM) untuk mengetahui hubungan keseimbangan jangka pendek.

Kesimpulan dari hasil analisa data yaitu bahwa variabel-variabel yang terdeteksi adanya ARCH/GARCH adalah variabel cadangan devisa, IHSG, nilai tukar, dan neto ekspor. Sedangkan variabel tingkat suku bunga tidak menunjukkan gejala adanya heteroskedastisitas dalam series datanya.

Untuk Konsultasi Analisa data selanjutnya, yang berhubungan dengan Time Series Analisis (AR, MA, ARMA, ARIMA, ARCH, GARCH, TARCH, E-GARCH, M-GARCH, T-GARCH, dll) menggunakan eviews silahkan menghubungi :

Beta Consulting

Telp: (021)3333 7389 – 0819 4505 9000
Email: info@bengkeldata.com

www.Bengkeldata.com
www.olah-data.com

follow us:
http://Twitter.com/olahdata

ARCH, GARCH, cadangan devisa, IHSG, neto ekspor, nilai tukar, tingkat suku bunga, uji kointegrasi, volatilitas, VAR, VECM, heteroskedastisitas, ARMA, deret waktu, time series, heteroskedastic, analisa data, konsultan, jasa,analisis data,analisis data statistik, analisa data, analisa data statistik, jasa statistik, konsultan statistik, jasa survei, konsultan survey, jasa riset pasar, konsutan riset pasar,skripsi, tesis, disertasi,ahli, olah data, olahdata, pengolahan, olah data, statistik, statistika, skripsi, tesis, data panel, regresi, korelasi, SEM, validitas, reliabilitas, survei pasar, alpha, cronbach, pearson, tugas, akhir, sarjana, jakarta, penelitian, spss, eviews, amos, lisrel, minitab, regresi, konsultasi, konsultan, analisis data, analisis data statistik, analisa data, analisa data statistik, jasa statistik, konsultan statistik, jasa survei, konsultan survey, jasa riset pasar, konsutan riset pasar , skripsi, tesis, disertasi,ahli, olahdata, pengolahan, olah data, statitistik, statistika, skripsi, tesis, data panel, regresi, korelasi, SEM, validitas, reliabilitas, survei pasar, alpha, cronbach, pearson,tugas, akhir, sarjana, jakarta, penelitian, spss, amos

Analisis Data Statistik : Analisa Data Faktor-Faktor Konsumsi di Indonesia dengan Pendekatan ECM (Error Correction Model)

Tujuan dari  penelitian ini adalah mengkaji pengaruh variabel pendapatan nasional, inflasi, suku bunga dan jumlah uang beredar terhadap konsumsi masyarakat yang digambarkan oleh variabel pengeluaran konsumsi mayarakat. Peneilitan ini dilakukan di Indonesia pada kurun waktu tahun 1988 sampai 2005. Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan Pendekatan ECM (Error Correction Model).

Besarnya tingkat pengaruh variabel pendapatan nasional, inflasi, suku bunga deposito riil dan jumlah uang beredar terhadap pengeluaran konsumsi di Indonesia dalam jangka pendek yaitu 69,98 % sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain di luar model regresi yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Dalam jangka panjang variasi variabel independent mampu pengaruhi variasi dependent sebesar 0,984057 menunjukkan bahwa variabel independent lebih mampu menjelaskan variabel dependent sebesar 98,40% dan sisanya dijelaskan oleh variabel lain diluar model yang tidak diikutsertakan dalam penelitian ini.

Tanda koefisien koreksi kesalahan sebesar 0,69 menunjukkan bahwa 0,69 ketidaksesuaian antara pengeluaran konsumsi (Y) yang aktual dengan yang diinginkan akan dieliminasi atau dihilangkan dalam satu tahun. Hasil dari uji asumsi klasik ternyata ditemukan masalah asumsi klasik yaitu multikolinearitas, sedangkan heteroskedasitas dan autokorelasi tidak ada masalah.

Untuk menghilangkan masalah multikolinearitas,  dilakukan dengan cara menghilangkan variabel jumlah uang beredar. Sehingga diperoleh spesifikasi model penelitian yang dipakai adalah tepat dan mampu menjelaskan hubungan jangka pendek dan jangka panjang. Dengan demikian persamaan tersebut sudah sahih dan tidak ada alasan untuk ditolak.

Berikut kesimpulan yang dapat di ambil dari penelitian ini:

Besarnya pengaruh variabel pendapatan nasional, inflasi, suku bunga deposito riil dan jumlah uang beredar terhadap pengeluaran konsumsi di Indonesia dalam jangka pendek yaitu 75,12 % sisanya dipengaruhi oleh variabel lain di luar model regresi yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Variabel pendapatan nasional pada jangka pendek dan jangka panjang secara statistik positif dan signifikan, berarti pendapatan nasional berpengaruh terhadap pengeluaran konsumsi masyarakat di Indonesia periode 1988-2005.

Variabel tingkat inflasi pada jangka pendek secara statistik tidak signifikan, berarti tingkat inflasi tidak berpengaruh terhadap pengeluaran konsumsi masyarakat di Indonesia periode 1988-2005

Variabel suku bunga deposito dalam jangka pendek tidak berpengaruh terhadap pengeluaran konsumsi. Dalam jangka panjang mempunyai hubungan yang tidak signifikan yang artinya tidak berpengaruh terhadap pengeluaran konsumsi

Variabel jumlah uang beredar dalam jangka pendek tidak berpengaruh terhadap pengeluaran konsumsi.

Berdasarkan pengujian secara serempak dengan menggunakan uji F menunjukkan bahwa variabel independen secara bersama-sama mempengaruhi variabel dependen, artinya pendapatan nasional, inflasi, suku bunga deposito dan jumlah uang beredar berpengaruh secara bersama-sama terhadap pengeluaran konsumsi masyarakat Indonesia.

Keywords: Penelitian, pendapatan, inflasisuku bunga, uang, pengeluarankonsumsi, ECM, deposito, regresi, independent, dependent, uji asumsi klasik, multikolinearitas, heteroskedasitas, autokorelasi, uji F

Untuk konsultasi mengenai Olahdata lebih lanjut, silahkan menghubungi:
CS : 021-71088944 – 0819 4505 9000
YM : abays_khan
e-mail : info@bengkeldata.com
Beta Consulting
www.olah-data.com
www.bengkeldata.com

Analisa Data Skripsi : Analisis Data Perimbangan Keuangan Pusat – Daerah dan Pinjaman Daerah di Kabupaten & Kota Propinsi D.I. Yogyakarta.

Pelaksanaan otonomi daerah diharapkan membawa perubahan pada perekonomian daerah, salah satunya adalah bidang keuangan daerah yang harus mulai mandiri untuk memenuhi kebutuhan daerah. Faktanya banyak daerah yang keuangannya masih tergantung pada transfer pemerintah pusat. Pinjaman daerah menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan keuangan dari pemerintah pusat.
Hal yang menarik adalah bagaimana mengetahui hubungan keuangan antara pusat dengan daerah. Metode yang digunakan untuk mengetahui hubungan tersebut adalah dengan menggunakan derajat desentralisasi fiskal. Prinsip Derajat desentralisasi fiskal adalah membandingkan antara Pendapatan Asli Daerah (PAD), Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak (BHPBP), dan Sumbangan dan bantuan daerah (SB) terhadap Total Penerimaan Daerah. Jika didominasi oleh PAD dan BHPBP maka derajat desentralisasi fiskal tinggi dan bisa dikatakan mandiri. Bila didominasi oleh Sumbangan dan Bantuan maka derajat desentralisasi fiskal masih rendah dan bisa dikatakan belum mandiri. Untuk pinjaman daerah, model yang digunakan merujuk pada persyaratan pinjaman jangka panjang sesuai dengan penjelasan UU no. 33 pasal 54 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat Dan Pemerintah Daerah yaitu dengan Jumlah Sisa Pokok Pinjaman dan Debt Service Coverage Ratio (DSCR) atau rasio kemampuan untuk membayar kembali pinjaman.
Obyek penelitian ini adalah kabupaten dan kota di Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai obyeknya, dimana keuangan daerahnya masih didominasi oleh pusat. Penelitian dilakukan mulai tahun 1995 sampai 2003. Dominasi pemerintah pusat tidak berubah bahkan setelah otonomi daerah Pendapatan Asli Daerah di masing-masing kabupaten dan kota di Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami penurunan. Pinjaman daerah sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan keuangan terhadap pemerintah pusat ternyata belum dapat dimanfaatkan oleh masing-masing kabupaten dan kota di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal ini terlihat dari besarnya jumlah sisa pokok pinjaman dan besar DSCR yang jauh dari ketentuan UU no. 33 pasal 54 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat Dan Pemerintah Daerah.
Untuk konsultasi mengenai Olahdata lebih lanjut, silahkan menghubungi:
CS : 021-71088944 – 0819 4505 9000
YM : abays_khan
e-mail : info@bengkeldata.com
Beta Consulting

Pelaksanaan otonomi daerah diharapkan membawa perubahan pada perekonomian daerah, salah satunya adalah bidang keuangan daerah yang harus mulai mandiri untuk memenuhi kebutuhan daerah. Faktanya banyak daerah yang keuangannya masih tergantung pada transfer pemerintah pusat. Pinjaman daerah menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan keuangan dari pemerintah pusat.
Hal yang menarik adalah bagaimana mengetahui hubungan keuangan antara pusat dengan daerah. Metode yang digunakan untuk mengetahui hubungan tersebut adalah dengan menggunakan derajat desentralisasi fiskal. Prinsip Derajat desentralisasi fiskal adalah membandingkan antara Pendapatan Asli Daerah (PAD), Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak (BHPBP), dan Sumbangan dan bantuan daerah (SB) terhadap Total Penerimaan Daerah. Jika didominasi oleh PAD dan BHPBP maka derajat desentralisasi fiskal tinggi dan bisa dikatakan mandiri. Bila didominasi oleh Sumbangan dan Bantuan maka derajat desentralisasi fiskal masih rendah dan bisa dikatakan belum mandiri. Untuk pinjaman daerah, model yang digunakan merujuk pada persyaratan pinjaman jangka panjang sesuai dengan penjelasan UU no. 33 pasal 54 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat Dan Pemerintah Daerah yaitu dengan Jumlah Sisa Pokok Pinjaman dan Debt Service Coverage Ratio (DSCR) atau rasio kemampuan untuk membayar kembali pinjaman.
Obyek penelitian ini adalah kabupaten dan kota di Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai obyeknya, dimana keuangan daerahnya masih didominasi oleh pusat. Penelitian dilakukan mulai tahun 1995 sampai 2003. Dominasi pemerintah pusat tidak berubah bahkan setelah otonomi daerah Pendapatan Asli Daerah di masing-masing kabupaten dan kota di Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami penurunan. Pinjaman daerah sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan keuangan terhadap pemerintah pusat ternyata belum dapat dimanfaatkan oleh masing-masing kabupaten dan kota di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal ini terlihat dari besarnya jumlah sisa pokok pinjaman dan besar DSCR yang jauh dari ketentuan UU no. 33 pasal 54 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat Dan Pemerintah Daerah.

Untuk konsultasi mengenai Olahdata lebih lanjut, silahkan menghubungi:CS : 021-71088944 – 0819 4505 9000YM : abays_khane-mail : info@bengkeldata.comBeta Consultingwww.olah-data.comwww.bengkeldata.com

Analisa Data : Analisis Data Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Inflasi di Indonesia (Part II)

Sebelumnya pernah dibahas mengenai faktor-faktor yang memperngaruhi inflasi di tulisan I, berikut kelanjutan dari tulisan tersebut.

Inflasi merupakan penyakit ekonomi yang tidak bisa diabaikan, karena dapat menimbulkan dampak yang sangat luas. Oleh karena itu inflasi seringkali menjadi target kebijakan pemerintah. Inflasi yang tinggi begitu penting untuk diperhatikan mengingat dampaknya bagi perekonomian yang dapat menimbulkan ketidakstabilan, pertumbuhan ekonomi yang lambat, dan pengangguran yang selalu meningkat. Seperti pengangguran, inflasi juga merupakan masalah yang selalu dihadapi dalam  perekonomiansuatu negara. Sampai di mana buruknya masalah inflasi ini berbeda antara satu waktu ke waktu yang lain, dan berbeda pula dari satu negara ke negara lain. Tingkat inflasi yaitu persentasi kenaikan harga – harga dalam suatu tahun tertentu, biasanya digunakan sebagai ukuran untuk menunjukkan baik buruknya masalah ekonomi yang dihadapi. Dalam perekonomian yang pesat berkembang inflasi yang rendah tingkatnya dinamakan inflasi merayap yaitu inflasi yang mencapai 2 sampai 4 persen. Sering sekali inflasi yang lebih serius, yaitu yang tingkatnya mencapai 5 sampai 10 persen atau sedikit lebih tinggi, akan berlaku. Pada waktu peperangan atau ketidakstabilan politik, inflasi dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi yang kenaikan tersebut dinamakan hiperinflasi (Sukirno, 2004).Akibat buruk inflasipada perekonomian yang oleh sebagian ahli ekonomi berpendapat bahwainflasi yang sangat lambat berlakunya dipandang sebagai stimulator bagi pertumbuhan ekonomi. Kenaikan harga tersebut tidak secepatnya diikuti oleh kenaikan upah pekerja, maka keuntungan akan bertambah. Pertambahan keuntungan akan menggalakkan investasi di masa akan datang dan ini akan menyebabkan percepatan dalam pertumbuhan ekonomi. Tetapi jika inflasi lebih serius keadaannyaperekonomiantidak akan berkembang seperti yang diinginkan.Pengalaman beberapa Negara yang pernah mengalami hiperinflasimenunjukkan bahwa inflasi yang buruk akan menimbulkan ketidakstabilan social dan politik, dan tidak mewujudkan pertumbuhanekonomi (Sukirno, 2004).Baru – baru ini pada Agustus 2007 tingkat inflasi di indonesia mencapai 0,75 persen telah melampaui ekspektasi atau kenaikan harga – harga. Tingkat inflasi Agustus 2007 dibanding bulan juli yang sama tahun lalu hanya 0,33 persen.Sedangkan inflasi year on year (Agustus 2007 terhadap Agustus 2006) mencapai 6,51 persen. Inflasiyear on year tersebut juga lebih tinggi dari bulan lalu yang mencapai 6,06 persen (Sri Mulyani, 2007).Inflasimerupakan salah satu peristiwa moneteryang sangat penting dan dijumpai di hampir semua Negara di dunia. Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada atau mengakibatkan kenaikan sebagian besar dari barang-barang lain (Boediono, 1995).Menurut A.P. Lehner inflasi adalah keadaan dimana terjadi kelebihan permintaan (Excess Demand) terhadap barang-barang dalam perekonomian secara keseluruhan (Anton H. Gunawan, 1991). Sementara itu Ackley mendefinisikan inflasi sebagai suatu kenaikan harga yang terus menerus dari barang dan jasa secara umum (bukan satu macam barang saja dan sesaat). Menurut definisi ini, kenaikan harga yang sporadis bukan dikatakan sebagai inflasi (Iswardono, 1990). Bank Indonnesia sebagai otoritas moneter memegang kendali yang sangat strategis dalam menciptakan kebijakan moneter yang stabil dalam perekonomian nasional, Namun dalam perjalanannya kebijakan Bank Indonesia yang dibuat atau kebijakan yang diambil Bank Indonesia menjadi tidak efektif dan bahkan tidak efisien sebagaimana yang dinginkan oleh bank Indonesia terhadap kebijakan tersebut untuk perekonomian.Bank Indonesia harus dapat mengukur peredaran uang, antara lain dengan menentukan tingkat suku bunga SBI, selain itu pemerintah juga memegang peranan penting dalam mengendalikan laju inflasiuntuk itu salah satu kebijakannya adalah mengatur pengeluaran untuk pengeluaran rutinnya (government expenditure). Dilain pihak sektor luar negeri juga cukup memegang peranan dalam mengendalikan inflasi diantaranya yaitu penerimaan export. Dengan demikian laju pertumbuhaninflasi dapat dikendalikan ditekan atau bahkan kemunculannya dapat dicegah.Oleh karena itu untuk dapat mencapai dan menjaga tingkat inflasi yang rendah dan stabil diperlukan adanya kerjasama dan kemitraan dari seluruh pelaku ekonomi. Mulai dari bank indonesia, pemerintah maupun swasta inflasi tidak boleh diabaikan begitu saja, karena dapat menimbulkan dampak yang sangat luas. Inflasi yang sangat tinggi sangat penting diperhatikan mengingat dampaknya bagiperekonomian yang bisa menimbulkan ketidakstabilan, pertumbuhan ekonomi yang lambat danpengangguranyang meningkat. Dengan hal tersebut, upaya mengendalikan inflasi agar stabil sangat penting untuk dilakukan.Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang di peroleh dari BI (Bank Indonesia) dan BPS (Badan Pusat Statistik). Variabel yang di gunakan antara lain : permintaan uang, tabungan domestik, produk domestik bruto, tingkat suku bunga bank, dan kurs dollar terhadap rupiah.Metode yang digunakan adalah metode destkriptif dan kuantitatif, yaitu menggambarkan suatu permasalahan dengan menganalisis data dan hal-hal yang berhubungan dengan rumus perhitungan yang digunakan untuk menganalisis masalah yang sedang diteliti. Adapun metode analisis yang digunakan peneliti yaitu dengan Metode Mackinnon, White dan Davidson (uji MWD).Dari hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa permintaan uang dan tingkat suku bunga berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap inflasi, sedangkan produk domestik bruto (PDB)berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap inflasidan kurstidak  mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap inflasi di Indonesia pada kuartal tahun penelitian.

Inflasi merupakan penyakit ekonomi yang tidak bisa diabaikan, karena dapat menimbulkan dampak yang sangat luas. Oleh karena itu inflasi seringkali menjadi target kebijakan pemerintah. Inflasi yang tinggi begitu penting untuk diperhatikan mengingat dampaknya bagi perekonomian yang dapat menimbulkan ketidakstabilan, pertumbuhan ekonomi yang lambat, dan pengangguran yang selalu meningkat.Seperti pengangguran, inflasi juga merupakan masalah yang selalu dihadapi dalam  perekonomiansuatu negara. Sampai di mana buruknya masalah inflasi ini berbeda antara satu waktu ke waktu yang lain, dan berbeda pula dari satu negara ke negara lain. Tingkat inflasi yaitu persentasi kenaikan harga – harga dalam suatu tahun tertentu, biasanya digunakan sebagai ukuran untuk menunjukkan baik buruknya masalah ekonomi yang dihadapi. Dalam perekonomian yang pesat berkembang inflasi yang rendah tingkatnya dinamakan inflasi merayap yaitu inflasi yang mencapai 2 sampai 4 persen.. Sering sekali inflasi yang lebih serius, yaitu yang tingkatnya mencapai 5 sampai 10 persen atau sedikit lebih tinggi, akan berlaku. Pada waktu peperangan atau ketidakstabilan politik, inflasi dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi yang kenaikan tersebut dinamakan hiperinflasi (Sukirno, 2004).Akibat buruk inflasi pada perekonomian yang oleh sebagian ahli ekonomi berpendapat bahwainflasiyang sangat lambat berlakunya dipandang sebagai stimulator bagi pertumbuhan ekonomi. Kenaikan harga tersebut tidak secepatnya diikuti oleh kenaikan upah pekerja, maka keuntungan akan bertambah. Pertambahan keuntungan akan menggalakkan investasi di masa akan datang dan ini akan menyebabkan percepatan dalam pertumbuhan ekonomi. Tetapi jika inflasi lebih serius keadaannyaperekonomiantidak akan berkembang seperti yang diinginkan.Pengalaman beberapa Negara yang pernah mengalami hiperinflasi menunjukkan bahwa inflasi yang buruk akan menimbulkan ketidakstabilan social dan politik, dan tidak mewujudkan pertumbuhanekonomi (Sukirno, 2004).Baru – baru ini pada Agustus 2007 tingkat inflasi di indonesia mencapai 0,75 persen telah melampaui ekspektasi atau kenaikan harga – harga. Tingkat inflasi Agustus 2007 dibanding bulan juli yang sama tahun lalu hanya 0,33 persen.Sedangkan inflasi year on year (Agustus 2007 terhadap Agustus 2006) mencapai 6,51 persen. Inflasiyear on year tersebut juga lebih tinggi dari bulan lalu yang mencapai 6,06 persen (Sri Mulyani, 2007).Inflasi merupakan salah satu peristiwa moneteryang sangat penting dan dijumpai di hampir semua Negara di dunia. Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada atau mengakibatkan kenaikan sebagian besar dari barang-barang lain (Boediono, 1995).Menurut A.P. Lehner inflasi adalah keadaan dimana terjadi kelebihan permintaan (Excess Demand) terhadap barang-barang dalam perekonomian secara keseluruhan (Anton H. Gunawan, 1991). Sementara itu Ackley mendefinisikan inflasi sebagai suatu kenaikan harga yang terus menerus dari barang dan jasa secara umum (bukan satu macam barang saja dan sesaat). Menurut definisi ini, kenaikan harga yang sporadis bukan dikatakan sebagai inflasi (Iswardono, 1990).Bank Indonnesia sebagai otoritas moneter memegang kendali yang sangat strategis dalam menciptakan kebijakan moneter yang stabil dalam perekonomian nasional, Namun dalam perjalanannya kebijakan Bank Indonesia yang dibuat atau kebijakan yang diambil Bank Indonesia menjadi tidak efektif dan bahkan tidak efisien sebagaimana yang dinginkan oleh bank Indonesia terhadap kebijakan tersebut untuk perekonomian.Bank Indonesia harus dapat mengukur peredaran uang, antara lain dengan menentukan tingkat suku bunga SBI, selain itu pemerintah juga memegang peranan penting dalam mengendalikan laju inflasiuntuk itu salah satu kebijakannya adalah mengatur pengeluaran untuk pengeluaran rutinnya (government expenditure). Dilain pihak sektor luar negeri juga cukup memegang peranan dalam mengendalikan inflasi diantaranya yaitu penerimaan export. Dengan demikian laju pertumbuhaninflasi dapat dikendalikan ditekan atau bahkan kemunculannya dapat dicegah.Oleh karena itu untuk dapat mencapai dan menjaga tingkat inflasi yang rendah dan stabil diperlukan adanya kerjasama dan kemitraan dari seluruh pelaku ekonomi. Mulai dari bank indonesia, pemerintah maupun swasta inflasi tidak boleh diabaikan begitu saja, karena dapat menimbulkan dampak yang sangat luas. Inflasi yang sangat tinggi sangat penting diperhatikan mengingat dampaknya bagi perekonomian yang bisa menimbulkan ketidakstabilan, pertumbuhan ekonomi yang lambat dan pengangguranyang meningkat. Dengan hal tersebut, upaya mengendalikan inflasi agar stabil sangat penting untuk dilakukan.Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang di peroleh dari BI (Bank Indonesia) dan BPS (Badan Pusat Statistik). Variabel yang di gunakan antara lain : permintaan uang, tabungan domestik, produk domestik bruto, tingkat suku bunga bank, dan kurs dollar terhadap rupiah.Metode yang digunakan adalah metode destkriptif dan kuantitatif, yaitu menggambarkan suatu permasalahan dengan menganalisis data dan hal-hal yang berhubungan dengan rumus perhitungan yang digunakan untuk menganalisis masalah yang sedang diteliti. Adapun metode analisis yang digunakan peneliti yaitu dengan Metode Mackinnon, White dan Davidson (uji MWD). Dari hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa permintaan uang dan tingkat suku bunga berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap inflasi, sedangkan produk domestik bruto (PDB)berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap inflasidan kurstidak  mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap inflasi di Indonesia pada kuartal tahun penelitian.

Untuk konsultasi mengenai Olahdata lebih lanjut, silahkan menghubungi:

CS : 021-71088944 – 0819 4505 9000

YM : abays_khan

e-mail : info@bengkeldata.com

Beta Consulting

http://www.olah-data.com

http://www.bengkeldata.com